“Senyuman…Dari Hati”

“De, awali pagi hari itu dengan senyum dan ceria. Karena hal itu akan berdampak pada aktifitas kita sepanjang hari. Jika hati pagi-pagi sudah diliputi senyum dan ceria, maka segara urusan akan riang dikerjakan, tidak menjadi beban berat”

Sekilas terngiang kembali nasehat suamiku pagi itu. Hm….senyuman dipagi hari memang akan menuai keriangan sepanjang hari. Dimana setiap hari pasti saja ada masalah yang akan kita hadapi (ga ada masalah, namanya bukan kehidupan donk..^^).

Ngomong-ngomong soal senyuman, ada berbagai macam tipe dalam kehidupan kita yang berhubungan dengan si sunggingan dua bibir itu di rona wajah kita itu. Ada orang yang ketika mendapat musibah dia tersenyum, itu senyum kegetiran. Ada yang menarik kedua ujung bibirnya disertai dengan memincingkan mata dan tautan alis yang menandakan senyuman kelicikan. Ada juga yang tersenyum sambil berkedip-kedip dengan alis berpadu kebawah yang mengartikan senyum memelas. Pun, ada pula yang senyum-senyum sendiri (mau itu campur sedih,  marah, no comment) sambil tatapannya kosong, hiy….itu mah “Orgil”, hehehe….

Tidak ada yang bisa mengalahkan bahasa tubuh satu ini. Di negara manapun, aktifitas ini pasti sering dilakukan. Bahkan, jika kita tersesat sekalipun, dan tidak bisa berbahasa  dengan bahasa wilayah tersebut, maka senyum adalah pembuka percakapannya. Hm…betapa indah Alloh menciptakan bibir kita sebagai sarana sedekah ini.

Pernah, seorang teman  bercerita. Ada seorang Ustadz yang setiap pagi selalu berjalan dari rumahnya menuju halte angkutan kota. Dan setiap pagi pula beliau bertemu dengan seorang pemuda dengan posisi duduk dan kegiatan yang sama. Beliau berpikir, ada tetangga baru ternyata. Maka, dengan senyum tulusnya beliau selalu menyapa tetangga tersebut seraya mengucapkan salam.

“Assalamu’alaykum Nak…pagi-pagi cari udara segar ya…”

Setiap hari, di waktu  dan tempat yang sama. Awalnya, sang tetangga tersebut cuek, tidak membalas sapaan dan tidak mempedulikan teguran sang Ustadz. Namun, dengan kesabaran sang Ustadz disapanya dengan senyum tulus setiap hari, hatinya akhirnya luluh juga. Hingga suatu pagi, sang pemuda tersebut mau membalas dengan senyuman terindahnya.

Sore harinya, ketika selesai mengisi kajian Mushola, sang Ustadz bertanya kepada tetanga sebelah rumah pemuda tadi.

“Kang, pemuda sebelah rumah Akang ko ga diajak sekalian?” tanya sang Ustadz

“Pemuda yang mana ya Tadz, perasaan tetangga saya itu cuma sepasang suami istri saja” jawab tetangga tersebut.

“Itu lho, yang setiap pagi duduk di teras rumah, saya selalu menyapa dia kok. Dia kemarin juga menyapa saya. Senyumannya indah, meski ga ngomong apa-apa”jelas sang Ustadz.

“MasyaAlloh tadz….itu yang sering pagi-pagi duduk di teras, yang sambil megang-megang  kayu, yang tatapannya sepertinya kosong? Itu kan adiknya si suami yang baru pulang dari RSJ. Kasihan lho Tadz, belum sembuh sudah dibawa pulang, trus  masih muda lagi sudah ga waras. Sering ngamuk. Kemarin juga, anak saya hampir dikejer-kejer kalau kakinya ga dirantai” jelas tetangga tersebut.

“Allohu Akbar…” terperanjatlah sang Ustadz tersebut. Beliau termenung, adalah sebuah hikmah besar baru beliau dapatkan. Ya, senyuman. Selain bernilai sedekah, ia juga menjadi sebuah bahasa hati yang berharga dan mudah diterjemahkan si penerima. Sebuah penerimaan akan dirinya.

Namun, bagaimana caranya agar senyuman tersebut dapat diterima oleh orang lain? Rahasianya ada pada hati kita. Bagaimanakah kondisi hati kita ketika kita tersenyum? Setulus hatikah kita ketika tersenyum?Hm…silakan jawab sendiri yah…^_^ V

Jadi teringat penggalan nasyid yang kusuka :

“Tapi senyumlah seikhlas hati…..

Senyuman…dari hati…..

Jatuh ke hati….”

Yup, senyuman yang seikhlas hati, jatuhnya akan pada hati orang-orang yang kita temui….

Iklan

2 Komentar (+add yours?)

  1. maspraset
    Jun 03, 2010 @ 02:41:43

    kalo suka senyum-senyum sendiri kira2 kenapa ya…..:ngacir

    Balas

    • Segores Pena di Sebuah Zaman
      Jun 03, 2010 @ 10:58:15

      suka senyum-senyum sendiri…????
      Hm..banyak alasan bung! :
      1. Mikirin sesuatu yang enak-enak (“nanti aku makan enak nih, hm…”)
      2. Mikirin sesuatu untuk masa depannya (“hm…nanti istriku ta kasih kejutan, jalan-jalan ke Bandung” => gubrakkk)
      3. Mikirin yang entah dia mikirin apa (” -.- “)
      4. Lagi nyanyi gembira dalam hati, maklum malu untuk pamer kalau suaranya bagus (“la…la…la…”)
      Antum yang mana,????
      Ho…yang itu….(sambil mikir yang ga jelas, no.3 diatas)

      Balas

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: