Berkelana Dalam Pilihan

(Salim A. Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang, hal. 117-125)

Ya Allah,

Sesungguhnya Kau uji aku dengan nikmat-nikmat

Lalu aku bisa bersyukur

Itu lebih aku sukai,

Daripada Kau uji aku dengan musibah-musibah

Lalu aku harus bersabar

-Abu Darda, RA-

Jika kita ditimpa musibah atau dikaruniai nikmat, maka menisbatkannya kepada takdir dan ketetapan Allah adalah hal yang baik. Minimal, tidak masalah. Pada nikmat-nikmat itu kita berucap, “Alhamdulillah”. Dan atau menambahkan “jazakumullahu khairan”, ketika ada peran sesama yang terasa padanya.

Pada musibah-musibah itu kita berucap,”Innalillahi wa innalilaihi roji’un”. Tambahan, semisal ada yang menyergah, “Sebenarnya kalau kamu hati-hati, kamu pasti nggak jatuh!”, kita akan menjawab, “Iya, maaf. Saya memang kurang hati-hati. Tapi ini sudah ketentuan Alloh kok.”

Jawaban ini akan menjauhkan kita dari sesal kemudian yang tak berguna. Terlebih lagi, kita memang harus menutup “seandainya” atau “kalau saja”, agar tak menjadi gerbang hati penyambut syaitan. Sebaliknya, menisbatkan maksiat kepada takdir adalah perkara yang terlarang.

Adalah seorang santri suatu malam memanjat pohon rambutan di rumah Ustadznya. Dan ia membawa karung. Diunduhnya semua yang terjangkau oleh tangannya. Arkian santri – santri sekompleksnya pun kenyang rambutan malam itu. Keesokan harinya, tanpa penyelidikan yang muluk-muluk, para santri yang tak kebagian rambutan sudah menunjukkan tersangkanya pada Ustadz.

Sang guru bertanya, “Mengapa kau curi rambutan?”

“Takdir Ustadz..”

Sang Ustadz menjewer telinga santrinya, memuntirnya, sampai tubuh bersarung itu terputar-puntir mengikuti telinganya.

“Adao.. Sakit Ustadz. Kok saya dihukum? Padahal saya mencuri itu kan sudah menjadi takdir Allah?”

“Lho,jeweran ini juga takdir!” Begitulah takdir.

Hanya disebut begitu ketika sudah terjadi. Tapi dalam hal berbuat maksiat, janganlah kita menisbat. Karena selalu ada ruang di antara rangsangan dan tanggapan. Dan ruang itu berisi pilihan-pilihan. Maka itulah gunanya misteri takdir. Agar kita memilih di antara bermacam tawaran. Untuk menyusun cita dan rencana. Lalu bertindak dengan prinsip indah, “kita bisa lari dari takdir Allah yang satu ketakdir Allah yang lain, dengan takdir Allah pula.”

Antara Dua Wanita

Lagi

Iklan

Mitsaqan Ghaliza di Madrasah Peradaban

Dengan iringan do’a

Terasa ringan langkah tiada beban

Bersama kuncup melati mewangi

Terasa harum lembut menawan

Titihkan jejak keberanian

Bersama menapaki janji suci

Dengan rangkaian selaksa keindahan

Maha suci Allah yang telah menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan, dengan mengucapkan syukur atas kehendak-Nya dan diiringi niat suci mengikuti sunnah Rasul-Mu dalam rangka membentuk keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, maka ijinkanlah kami ya Allah untuk menyempurnakan setengah agama kami  :

 Mau tau lanjutannya???

klik disini….

Disini….

Disini, aku banyak belajar tentang Kesabaran

tentang Kesyukuran

tentang Kesungguhan

tentang Pengorbanan

tentang Ketulusan

tentang Kekerabatan

tentang Ketaatan

tentang Pengertian

tentang Keikhlasan, dan…..

tentang Kepasrahan….

Ya, disini…

Dibangunan ini, perlahan kupahat pelajaran-pelajaran itu. Kuukir dengan senyuman, bahwa Dia pasti membimbingku tuk terus tak kenal lelah mempelajarinya. Ah, betapa indah hiasan-hiasan yang dikirimkanNya untukku yang membuatku tak henti-henti nya mengucapkan syukur. Sebuah simfoni indah dalam melodi kehidupan. Nyaring. Merdu. Yang membuahkan decak kagum dan keheranan betapa Maha KasihNya Dia…

Karena, Madrasah Peradaban memang dibangun untuk terus dipelajari…

Cikarang,1 Dec 2009 (20:57)

Syukron untuk Mba Dyar & Mas Hendro atas tausyiahnya…..^^